Industri Global Percayai Indonesia

oleh

MENTERI Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan secara umum pelaku industri berskala global merasa percaya untuk terus berinvestasi di Indonesia karena iklim usaha yang kondusif.

“Dari forum World Economic Forum (WEF) 2019 ini, kami berharap perekonomian dunia lebih memiliki kepastian sehingga pertumbuhannya bisa lebih tinggi lagi,” ujar Airlangga lewat keterangannya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Bagi Indonesia, lanjutnya, ­pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi akan meningkatkan lapangan pekerjaan dan investasi. Airlangga menyampaikan hal itu sebagai hasil pertemuan dengan para pelaku industri skala global di ajang WEF 2019.

Selain mengunjungi kantor pusat ­Stadler Rail Group, dalam rangkaian agenda WEF Annual Meeting di Davos, Swiss, pada pekan ini Menperin juga bertemu sejumlah pemimpin perusahaan internasional seperti CEO GE Gas Power Scott Strazik.

“Kalau dari GE, mereka melaporkan terlibat dalam pembangunan power plant di Jawa, yang pengembangannya akan mendekati tiga gigawatt (Gw). Mereka tentu sangat mengapresiasi kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia saat ini,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.

Menperin juga bertemu dengan perusahaan farmasi Abbott. Menurutnya, ­Abbott memberikan perhatian atas ­adanya kebijakan mengenai konten lokal dan sertifikasi halal. Mereka, imbuh Menperin,  akan menyesuaikan penerapan dari regulasi tersebut.

“Sebagai perusahaan farmasi, pada dasarnya memang sangat mengikuti regulasi. Mereka berharap diberikan waktu yang cukup untuk melakukan implementasi peraturan-peraturan,” tukas Menperin.

Pelan tapi pasti
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong yang juga hadir di Davos turut meyakinkan prospek ekonomi Indonesia yang gemilang kepada para peserta.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, kemarin, Thomas menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid dengan perumpamaan pelan tapi pasti serta diprediksi berlipat ganda setiap 14 tahun.

“Di 2017, ekonomi Indonesia tumbuh 5,07% dan mencapai US$1 triliun, mencapai tonggak sejarah baru untuk bergabung dengan ‘the Trillion-Dollar-Club’, yang hanya bisa diraih 16 negara. Hal ini merupakan salah satu momen bersejarah ekonomi bangsa,” tuturnya.

Menurut Thomas, sebagai pasar yang baru muncul, Indonesia masih rentan terhadap pergeseran sentimen di kalangan investor internasional. “Namun, saat ini, dengan adanya perang dagang AS dengan Tiongkok dapat membuat Indonesia lebih menarik bagi para investor,” jelasnya.

Selain itu, Thomas menyampaikan bahwa perlambatan ekonomi dunia memberikan efek yang baik karena dapat membuka ruang untuk mengurangi risiko dan tekanan di pasar modal.

Selain mengikuti rangkaian kegiatan WEF, Thomas menggelar pertemuan dengan sejumlah perusahaan di bidang informasi teknologi, energi, pariwisata, logistik, jasa keuangan, industri farmasi, pengolahan limbah, e-commerce, serta jasa kebandarudaraan guna membahas minat dan tren investasi di Indonesia yang lebih meyakinkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *